Skip to main content

Logika

Logika 
Pengertian Logika
Dalam filsafat ilmu, logika sangat dibutuhkan untuk menjelaskan dan memahami sebuah gejala keilmuan. Hadiatmaja dan Kuswa Endah melalui Suwardi Endraswara (2012: 174) menyatakan bahwa logika adalah cabang filsafat umum yang membicarakan masalah berpikir tepat, yaitu mengikuti kaidah-kaidah berpikir yang logis.
Logika berasal dari kata Yunani yaitu “logos” yang berarti ucapan, kata, akal budi, dan ilmu (Suwardi Endraswara, 2012: 173). Secara leksikal, Oxford Advanced Learner’s Dictionary mendefinisikan logika sebagai (1) the science of thinking about or explaining the reasons for something(2) a particular method or system of reasoning, dan (3) a way of thinking or explaining something, whether right or wrong. Hal senada juga ditegaskan oleh Karomani (2009: 14) yang mendefinisikan logika sebagai suatu kajian tentang bagaimana seseorang mampu untuk berpikir dengan lurus.
Logika adalah ilmu tentang metode dan prinsip yang memelajari segenap asas, aturan dan tata cara mengenai penalaran yang benar untuk membedakan yang benar dan yang salah. Logika merupakan ilmu sekaligus keterampilan berpikir guna memeroleh argumentasi yang nalar ketika digunakan untuk memandang sebuah fenomena (Suwardi Endraswara, 2012: 175).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa logika adalah ilmu atau cara tertentu yang digunakan seseorang dalam rangka berpikir lurus guna mencari alasan, penjelasan, dan jawaban atas sebuah permasalahan.
Macam-macam Logika
Logika sebagai sarana berpikir manusia apabila dipandang dari aspek waktu, maka logika dapat dibedakan menjadi dua, meliputi:
a.   Logika tradisional atau logika naturalis atau logika kodratiah/alamiah (second order), yaitu cara berpikir sederhana berdasarkan kodrat atau naluri fitrah manusia yang sejak lahir sudah dilengkapi alat berpikir, sebagai contoh:
Makan tidak sama dengan minum.
Seseorang yang lapar pasti ingin makan.
Seseorang yang haus pasti ingin minum.
Logika tradisional ini sering disebut juga logika bahasa atau logika linguistik karena logika jenis ini sering berfungsi untuk menganalisa bahasa (Suwardi Endraswara, 2012: 178). Menurut Noeng Muhadjir (2011: 23-24) logika tradisional terbagi lagi menjadi dua macam, yaitu:
1. Logika formil deduktif Aristoteles.
Disebut deduktif karena pembuktian diambil dari premis mayor yang dipandang mutlak benar, untuk membuktikan kasus (yang disebut premis minor) dan apabila terdapat kecocokan (dalam makna implisit) dengan premis mayor, maka kesimpulan kasus itu benar. Sedangkan disebut formil karena kebenaran diuji berdasarkan sinkrunnya proposisi-proposisi mayor-minor dan term tengahnya, bukan diuji berdasarkan kebenaran materiil. Contoh:
Semua manusia (subyek mayor) dapat mati (predikat mayor)
Si Ali (term tengah) itu manusia (subyek mayor)
Jadi: Si Ali (term tengah) dapat mati (predikat mayor)
2. Logika materiil axiomatik Euclides.
Logika jenis ini disebut materiil karena pembuktian kebenaran berdasarkan bukti empiris. Kebenarannya didasarkan pada cocoknya rasio dengan bukti empiris. Logika ini juga disebut axiomatik karena pembuktian kebenaran berdasar axioma atau kebenaran universal. Contohnya:
    Matahari terbit dari dari Timur dan terbenam di Barat.
b.  Logika Modern atau logika artifisialis atau logika matematika/simbolik atau logika ilmiah (first order), yaitu jenis logika yang menerapkan prinsip-prinsip matematik terhadap logika tradisional dengan menggunakan lambang-lambang (non-bahasa). Dengan kata lain logika jenis ini menggunakan cara berpikir matematis. Fakta yang dipakai adalah fakta-fakta obyektif yang andal, sehingga daya tahan logika ini agak lama. Dengan kata lain logika jenis ini mempelajari hukum-hukum, prinsip-prinsip, dan bentuk-bentuk pikiran manusia yang jika dipatuhi akan membimbing manusia untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan yang lurus dan sah (Suwardi Endraswara: 2012: 181-186). Sebagai contoh:
A > B (A lebih besar dari B)
A = C (A sama dengan C)
    C > B (C lebih besar dari B) atau B < C (B lebih kecil dari C)
c.   Logika Linguistik atau Logika Bahasa
Telah dipaparkan sebelumnya bahwa logika bahasa/linguistik (second order) digunakan untuk mengambil kesimpulan fakta-fakta bahasa dan sastra. Terdapat dua teori terkait pemahaman bahasa dan sastra yaitu: (1) formal thinking yaitu teori bahasa platonik, bahwa manusia sebenarya dapat bepikir formal sehingga menghasilkan subyek, predikat, dan objek, dan (2) subjective thinking, yaitu teori bahasa chomsky, bahwa sesuatu yg diekspresikan berada dalam pikiran manusia (Suwardi Endraswara, 2012: 181).
Logika bahasa adalah cara berpikir menggunakan gagasan yang diawali dengan hal-hal atau fakta yang bersifat khusus yang dituangkan dalam beberapa kalimat atau berupa kalimat penjelasan berdasarkan penjelasan itu berakhir pada kesimpulan umum yang dinyatakan dengan kalimat topik. Dengan kata lain logika bahasa menggunakan alur berpikir induktif. Contohnya:
·     Kuda Sumba punya sebuah jantung        (Penjelasan)
·     Kuda Australia punya sebuah jantung     (Penjelasan)
·     Kuda Amerika punya sebuah jantung     (Penjelasan)
·     Kuda Inggris punya sebuah jantung        (Penjelasan)
·     Setiap kuda punya sebuah jantung          (Kalimat Topik)
Bahasa yang baik dan benar dalam praktik kehidupan sehari-hari hanya dapat tercipta apabila ada kebiasaan atau kemampuan dasar dari setiap orang untuk berpikir logis. Sebaliknya, suatu kemampuan berpikir logis tanpa kemampuan bahasa yang baik, maka ia tidak akan dapat menyampaikan isi pikiran kepada orang lain.
d.  Logika Matematis
Logika matematika seperti telah dibahas di atas, adalah sebuah alat berpikir yang menggunakan pernyataan-pernyataan (statements) majemuk termasuk di dalamnya:
1)     Bahasa untuk merepresentasikan pernyataan.
2)     Notasi yang tepat untuk menuliskan sebuah pernyataan.
3)  Metodologi untuk bernalar secara objektif untuk menentukan nilai benar-salah dari sebuah pernyataan.
4)     Dasar-dasar untuk menyatakan pembuktian formal dalam semua cabang matematika.
e.   Logika Filosofis
Menurut Russell melalui Suwardi Endraswara (2012: 183-185) membagi logika ke dalam tiga tipe yaitu: logika tradisional klasik, logika evolusionisme, dan logika atomisme.
1)     Logika tradisional klasik
Perhatian utama adalah para filsuf Yunani yang menekankan pasa rasio sebagai perhatian utamanya. Dengan kata lain rasio merupakan satu-satunya keabsahan yang sahih. Metode deduksi apriori digunakan dalam tipe ini untuk mengkaji fenomena yang ada. Semua realitas adalah suatu kesatuan dan tidak ada perubahan. Logika dalam bentuk ini dikonstruksikan melalui proses negasi. Dunia dibentuk oleh logika dan disempurnakan oleh pengalaman.
2)     Logika evolusionisme
Logika tipe ini menekankan dan mendasarkan pada ilmu pengetahuan. Evolusionisme bukan ilmu pengetahuan yang sesungguhnya dan juga bukan metode untuk memecahkan masalah. Filsafat sesungguhnya adalah suatu yang lebih kuat sekaligus lebih longgar, menguak harapan-harapan tentang keduniaan dan membutuhkan beberapa disiplin ilmu supaya berhasil dalam mempraktikkannya.
3)     Logika atomisme
Logika tipe ini mempunyai tujuan untuk mengupas habis struktur hakiki bahasa dan dunia. Tujuan ini dicapai melalui jalan analisis. Logika tipe ini, didasarkan pada pemikiran matematis.
f.   Logika Pragmatik
Pragmatisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis. Dengan demikian, bukan kebenaran objektif dari pengetahuan yang penting melainkan bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan kepada individu-individu.

Dasar dari pragmatisme adalah logika pengamatan, di mana apa yang ditampilkan pada manusia dalam dunia nyata merupakan fakta-fakta individual, konkret, dan terpisah satu sama lain. Dunia ditampilkan apa adanya dan perbedaan diterima begitu saja. Representasi realitas yang muncul di pikiran manusia selalu bersifat pribadi dan bukan merupakan fakta-fakta umum. Ide menjadi benar ketika memiliki fungsi pelayanan dan kegunaan. Dengan demikian, filsafat pragmatisme tidak mau direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kebenaran, terlebih yang bersifat metafisik.
Manfaat Logika
Jenis-jenis logika yang telah dipaparkan satu-persatu di atas, secara historis tentu ada makna dan manfaatnya bagi manusia. Menurut Suwardi Endraswara (2012: 178) memaprakan secara singkat manfaat logika yang dapat dikategorikan sebagai berikut:
a.    Logika menyatakan, menjelaskan, dan mempergunakan prinsip-prinsip abstrak yang dapat dipakai dalam semua lapangan ilmu pengetahuan bahkan seluruh lapangan kehidupan.
b.    Logika menambah daya berpikir abstrak dan dengan demikian melatih dan mengembangkan daya pemikiran dan menimbilkan disiplin intelektual.
c.       Logika mencegah kita tersesat oleh segala sesuatu yang kita peroleh berdasarkan otoritas, emosi, dan prasangka.
d.   Logika membantu kita untuk mampu berpikir sendiri dan tahu membedakan yang benar dan yang salah.
e.  Logika membantu orang untuk dapat berpikir lurus, tepat dan teratur karena dengan berpikir demikian seseorang dapat memeroleh kebenaran dan menghindari kesalahan.
Sumber

 Wikipedia Bahasa Indonesia. Logika.

Comments

Popular posts from this blog

Hubungan Epistemologi, Metodologi, Dan Metode Ilmiah

Hubungan Epistemologi, Metodologi, Dan Metode Ilmiah Metode ilmiah berperan dalam tataran transformasi dari wujud pengetahuan menuju ilmu pengetahuan. Bisa tidaknya pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan yang bergantung pada metode ilmiah, karena metode ilmiah menjadi standar untuk menilai dan mengukur kelayakan suatu ilmu pengetahuan. Sesuatu fenomena pengetahuan logis, tetapi tidak empiris, juga tidak termasuk dalam ilmu pengetahuan, melainkan termasuk wilayah filsafat. Dengan demikian metode ilmiah selalu disokong oleh dua pilar pengetahuan, yaitu rasio dan fakta secara integratif. Metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis (Senn, 2002). Sedangkan metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan dalam metode tersebut. Secara sederhana dapat dikatakan, bahwa metodologi adalah ilmu tentang metode atau ilmu yang mempelajari prosedur atau cara-cara mengetahui sesuatu. Jika metode merupakan prosedur ...

Implementasi Dalam Penelitian

Implementasi Dalam Penelitian Pelaksanaan penelitian, baik kuantitatif maupun kualitatif, sebenarnya merupakan langkah-langkah sistematis yang menjamin diperoleh pengetahuan yang mempunyai karakteristik rasional dan empiris. Secara filosofis kedua pendekatan tersebut mempunyai landasan yang berbeda. Penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang didasarkan pada filsafat positivistik. Filsafat positivistik berpandangan bahwa gejala alam dapat diklasifikasikan, relatif tetap, konkrit, teramati, terukur, dan hubungan gejala bersifat sebab akibat. Proses penelitian dimulai dari proses yang bersifat deduktif, artinya ketika menghadapi masalah langkah pertama yang dilakukan adalah mencari jawaban secara rasional teoretis melalui kajian pustaka untuk penyusunan kerangka berpikir. Bagi penelitian yang memerlukan hipotesis, kerangka berpikir digunakan sebagai dasar untuk menyusun hipotesis. Langkah berikutnya adalah mengumpulkan dan menganalisis data. Tujuan utama langkah ini adalah un...

Perbedaan Ilmu Dengan Pengetahuan Mistik

Perbedaan Ilmu Dengan Pengetahuan Mistik A.     Ilmu 1.     Hakikat ilmu Ilmu bersifat rasional Contoh: Air selalu menempati ruang 2.     Struktur ilmu Metode ilmiah Contoh: Makhluk hidup yang ada didunia ini selalu berkembang dan tumbuh 3.     Epistimologi ilmu Epistimologi yang mengkaji pengetahuan manusia. Pembagian epistimologi yang meliputi epistimologi umum (memunculkan pertanyaan  ada apa? ), epistimologi khusus (memunculkan pengetahuan yang diproses dan dapat di pertanggung jawabkan, metodologi (mengkaji langkah-langkah praktis untuk memperoleh pengetahuan yang benar).  Pada mulanya sumber pengetahuan adalah akal. Adapun pengembangan yang lain menyatakan pengalaman, nalar, intuisi, keyakinan, otoritas dan wahyu merupakan sumber pengetahuan. Sumber pengetahuan merupakan sumber dalam rangka mencari kebenaran. Dimana teori kebenaran terdiri atas teori korespondensi, teori koherensi, teori...