Dasar-Dasar Pengetahuan
Pengetahuan
merupakan kajian panjang sehingga terjadi pergulatan sejarah pemikiran
filsafati dalam menemukan pengertian pengetahuan.Pengetahuan, yang dalam bahasa
Inggris dinyatakan dengan knowledge, menurut Suryasumantri (2005:
104), pada hakikatnya merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang suatu
objek tertentu, termasuk di dalamnya adalah ilmu, jadi ilmu merupakan bagian
dari pengetahuan yang diketahui oleh manusia di samping berbagai pengetahuan
lainnya seperti seni dan agama. Ilmu, menurut pendapat di atas, menunjuk pada
terminologi yang bersifat khusus, yang merupakan bagian dari pengetahuan. Pengetahuan
dapat diperoleh melalui beberapa cara, yaitu pengalaman, intuisi, pendapat
otoritas, penemuan secara kebetulan dan coba-coba (trial and error)
maupun penalaran.
Manusia memerlukan
pengetahuan karena:
1. Manusia mempunyai
sifat rasa ingin tahu tentang sesuatu, dan rasa
ingin tahu itu selalu berkembang dari waktu ke waktu.
2. Untuk
memenuhi kebutuhan hidup manusia yang selalu berubah dan meningkat
dari waktu kewaktu.
Adapun dasar-dasar
pengetahuan yaitu sebagai berikut:
1.
Pengalaman
Hal
yang pertama dan paling utama yang mendasarkan pengetahuan adalah pengalaman. Pengalaman
adalah keseluruhan peristiwa yang terjadi dalam diri manusia dalam interaksinya
dengan alam, lingkungan dan kenyataan, termasuk Yang Ilahi. Menurut Huitt
(1998), pengalaman terbagi menjadi dua:
a. Pengalaman
primer, yaitu pengalaman langsung akan persentuhan indrawi dengan benda-benda
konkret di luar manusia dan peristiwa yang disaksikan sendiri.
b. Pengalaman
sekunder, yaitu pengalaman tak langsung atau reflektif mengenai pengalaman
primer. Sekedar contoh, saya dapat melihat teman-teman dengan kedua mata saya
dan saya dapat mendengar komentar teman-teman dengan kedua telinga saya.Inilah
pengalaman primer. Adapun pengalaman sekunder, saya sadar akan apa yang saya
lihat dengan kedua mata saya dan sadar akan apa yang saya dengar dengan kedua
telinga saya.
Paling
tidak, ada tiga ciri pokok pengalaman manusia.Pertama, pengalaman manusia yang
beraneka ragam.Kedua, pengalaman yang berkaitan dengan objek-objek tertentu di
luar diri kita sebagai subjek. Dan ketiga, pengalaman manusia selalu bertambah
seiring dengan pertambahan usia, kesempatan, dan kedewasaan.
2.
Ingatan
Pengetahuan
manusia juga didasarkan pada ingatan sebagai kelanjutan dari pengalaman. Tanpa
ingatan, pengalaman indrawi tidak akan bertumbuh menjadi pengetahuan. Ingatan
mengandalkan pengalaman indrawi sebagai sandaran ataupun rujukan. Kita hanya
dapat mengingat apa yang sebelumnya telah kita alami. Kendati ingatan sering
kabur dan tidak tepat, namun kita dalam kehidupan sehari-hari selalu
mendasarkan pengetahuan kita pada ingatan baik secara teoritis dan praktis. Seandainya
ingatan tak dapat kita andalkan maka kita tak dapat melakukan tugas sehari-hari
seperti mengenal sahabat, pacar, dan lain-lain. Tanpa ingatan, kegiatan
penalaran kita menjadi mustahil. Karena untuk bernalar dan menarik kesimpulan
dalam premis-premisnya kita menggunakan nalar.
Ingatan
tidak selalu benar dan karenanya tidak selalu merupakan bentuk pengetahuan.
Agar ingatan dapat dijadikan rujukan dan dapat dipertanggungjawabkan
kebenarannya bagi pengetahuan, setidaknya ada dua syarat yang harus dipenuhi
yakni: kesaksian dan konsisten.
3.
Kesaksian
“Kesaksian”
dimaksudkan untuk penegasan sesuatu sebagai benar oleh seorang saksi kejadian
atau peristiwa, dan diajukan kepada orang lain untuk dipercaya. “Percaya”
dimaksudkan untuk menerima sesuatu sebagai benar yang didasarkan pada keyakinan
dan kewenangan atau jaminan otoritas orang yang memberi kesaksian.
Dalam
mempercayai suatu kesaksian, kita tidak memiliki cukup bukti intrinsik untuk
kebenarannya. Yang kita miliki hanyalah bukti ekstrinsik. Menurut Descartes,
beberapa pemikir menolak kesaksian sebagai salah satu dasar dan sumber
pengetahuan karena kesaksian bisa keliru dan bersifat menipu. Walaupun
demikian, ada beberapa pengetahuan yang kebenarannya dirujukkan kepada
kesaksian seperti sejarah, hukum, dan agama secara metodologis.
4.
Minat dan Rasa Ingin Tahu
Tidak
semua pengalaman dapat dijadikan pengetahuan atau tidak semua pengalaman
berkembang menjadi pengetahuan.Untuk berkembang menjadi pengetahuan subjek yang
mengalami harus memiliki minat dan rasa ingin tahu.Minat mengarahkan perhatian
ke hal-hal yang dialami dan dianggap penting untuk diperhatikan.Ini berarti
bahwa dalam kegiatan mengetahui terdapat unsur penilaian. Orang akan
memperhatikan dan mengetahui apa apa yang ia anggap bernilai. Dan rasa ingin
tahu mendorong untuk bertanya dan menyelidiki apa yang dialaminya dan menarik
minatnya. Inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.
Rasa
ingin tahu terkait erat dengan pengalaman mengagumkan dan mengesankan dengan
keheranan yang dialami. Mengajukan pertanyaan yang tepat mengandaikan bahwa
orang tahu di mana ia tahu dan di mana ia tidak tahu. Maka, mengajukan
pertanyaan yang tepat adalah langkah pertama untuk memperoleh jawaban yang
tepat.
5.
Pikiran dan Penalaran
Kegiatan
pokok pikiran dalam mencari kebenaran dalam pengetahuan adalah penalaran.Bagi
seorang guru, nalar adalah latihan intelektual untuk meningkatkan akal budi
anak didik. Bagi seorang advokat, nalar adalah cara membela dan menyanggah
kesaksian. Bagi ekonom, nalar adalah sarana membagi sumber daya untuk
meningkatkan efisiensi, daya guna, dan kemakmuran. Sedang, bagi ilmuwan, nalar
adalah metode merancang percobaan untuk memeriksa hipotesis. Nalar dalam
kehidupan kita sehari-hari selalu diartikan rasionalitas. Nicholas Rescher
mengatakan, “Bersikap rasional berarti menggunakan kecerdasan untuk menentukan
tindakan terbaik dalam suatu keadaan.”Ini definisi kasar, tapi berguna sebagai
landasan untuk membangun suatu argumen.
Penalaran
adalah proses penarikan kesimpulan dari hal-hal yang telah diketahui sebelumnya.
Setidaknya ada tiga metode dalam proses penalaran. Pertama, induksi yakni
penalaran yang menarik kesimpulan umum (universal) dari kasus-kasus tertentu
(partikular). Kedua, deduksi yakni penalaran untuk merumuskan sebuah hipotesis
berupa pernyataan umum yang kemungkinan pernyataannya masih perlu untuk diuji
coba.
6.
Logika
Dalam
logika, ada tiga rumus yang menjadi dasar-dasar pengetahuan. Pertama, silogisme
kategoris yakni silogisme yang terdiri dari proposisi-proposisi yang bersifat
kategoris, yaitu proposisi yang berbentuk S itu P atau S itu bukan P.
Contoh:
Semua jenis logam akan memuai jika dipanaskan
Besi
adalah logam
Besi
akan memuai jika dipanaskan
Contoh
di atas adalah silogisme kategoris yang bersifat yang bersifat positif. Tapi
silogisme kategoris juga bisa bersifat negatif. Maka, secara umum ada empat
silogisme kategoris sejajar dengan empat jenis proposisi kategoris.
Afirmatif
universal (A): Semua zat dapat
berubah wujud
Negatif
universal (B): Semua zat tidak
dapat mempertahankan wujudnya
Afirmatif
universal (I): Beberapa benda dapat
mengapung di air
Negatif
partikular (O): Beberapa benda
tidak dapat mengapung di air
Kedua,
silogisme hipotetis yakni silogisme dalam proposisi bersyarat.
a. Modus
ponens: Kalau p – q
Tetapi p
Maka q
b. Modus
tollens: Kalau p – q
c. Tetapi
q
d. Maka
q
Bentuk-bentuk silogisme hipotetis lain tidak
sahih. Dan ketiga, silogisme disjungtif adalah silogisme yang sahih hanya dalam
salah satu kemungkinan yang menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan lain.
Contoh: Atau p, atau q, atau r
Tapi bukan p dan bukan r
Maka r
7.
Bahasa
Di
samping logika penalaran juga mengandaikan bahasa. Tanpa bahasa manusia tidak
dapat mengungkapkan pengetahuannya. Dalam eksperimen antara bayi dan anak kera
yang lahir secara bersama waktunya, pada awalnya keduanya berkembang hampir
sejajar. Tapi seorang anak mulai bisa berbahasa, daya nalarnya menjadi amat
berekembang dan pengetahuan tentang diri sendiri serta lingkungannya menjadi
jauh melampaui kera seusianya.
8.
Kebutuhan Hidup Manusia
Dalam
interaksinya dengan dunia dan lingkungannya manusia membutuhkan pengetahuan. Maka,
kebutuhan manusia juga dapat mendasari dan mendorong manusia untuk
mengembangkan pengetahuannya. Berbeda dengan binatang, manusia memperoleh
pengetahuan tidak hanya didasarkan pada instingtif tapi juga kreatif. Manusia
adalah makhluk yang mampu menciptakan alat, memiliki strategi, dan
kebijaksanaan dalam bertindak.
Walaupun
kebutuhan manusia yang mendasari pengetahuan termasuk ke dalam dimensi
pragmatis pengetahuan tapi juga terdorong oleh rasa keingintahuan yang dimiliki
oleh manusia itu sendiri.
Sumber:
Suriasumantri, Jujun.S. (1996) Ilmu
dalam Perspektif Moral, Sosial, dan Politik: Sebuah Dialog
tentang Dunia Keilmuan Dewasa ini. Jakarta: Gramedia.
Comments
Post a Comment