Esensi Bahasa Di Tinjau
Dari Segi Filsafat
1.
Bidang-Bidang Khusus Yang Dikaji Dalam Filsafat Bahasa
Terdapat beberapa
bidang khusus yang dikaji dalam filsafat bahasa, diantaranya sebagai berikut.
a.
Filsafat Analitik
Filsafat
analitik atau filsafat linguistik atau filsafat bahasa, penggunaan istilahnya
tergantung pada preferensi filusuf yang bersangkutan. Namun pada umumnya kita
dapat menjelaskan pendekatan ini sebagai suatu yang menganggap analisis bahasa
sebagai tugas mendasar filusuf. Akar-akar analisis linguistik ditanam di lahan
yang disiangi oleh seorang matematikawan bernama Gottlob Frege. Frege memulai
sebuah revolusi logika (analitik), yang implikasinya masih dalam proses
penanganan oleh filsuf-filsuf kontemporer. Ia menganggap bahwa logika
sebetulnya bias direduksi kedalam matematika, dan yakin bahwa bukti-bukti harus
selalu dikemukakan dalam bentuk langkah-langkah deduktif yang diungkapkan
dengan jelas.
Yang
lebih penting, ia percaya logika mampu mengerjakan tugas-tugas jauh melampaui
apa saja yang dibayangkan oleh Aristoteles, asalkan makna para logikawan bisa
mengembangkan cara pengungkapan makna linguistik. Seluruhnya dengan
simbol-simbol logika. Salah satu idenya yang berpengaruh adalah membuat
perbedaan “arti” (sense) proposisi dan “acuannya” (referenci)-nya, dengan
mengetengahkan bahwa proposisi memiliki makan bahwa apabila mempunyai arti
sekaligus acauan. (ide ini mengandung kemiripan yang menonjol, secara kebetulan
dengan pernyataan Kant bahwa pengetahuan hanya muncul melalui sintesis antara
konsep dan intuisi).
b. Filsafat
Sintetik
Tekanan
yang berlebihan pada logika analitik dalam filsafat, seperti yang telah kita
amati, sering menimbulkan pandangan yang mengabaikan semua mitos dalam
pencarian sistem ilmiah. Sejauh mana filsuf-filsuf membolehkan cara pikir
mitologis untuk memainkan peran dalam berfilsafat barangkali sebanding dengan
sejauh mana mereka mengakui berapa bentuk logika sintetik sebagi komplemen
sebagai analitik yang sah. Contoh: yesus mengalami hubungan antara bapak da
putra, sehingga ia mgajari pengikut-pengikutnya agar berdo’a kepada bapak
mereka yang di surga.
c. Filsafat
Hermeneutik
Aliran
utama filsafat ketiga pada abad kedua puluh meminjam namanya, dengan alasan
yang baik, mengingat sifat mitologis ini. Sebgaiman tugas hermes ialah
mengungkapkan makna tersembunyi dari dewa-dewa ke manusia-manusia, filsafat
hermeneutik pun berusaha memahami persoalan paling dasar dalam kajian ilmu
tentang logika atau filsafat bahasa: bagaimana pemahaman itu sendiri mengambil
tempat bilamana kita menafsirkan pesan-pesan ucapan atau tulisan. Filsafat
hermeneutic memilik akar yang dalam di kebudayaan barat. Bahkan, Aristoteles
sendiri menulis buku berjudul peri hermeneias (tentang interpretasi), walau ini
lebih berkenan dengan pertanyaan-pertanyaan dasar logika daripada dengan
persoalan yang saat ini kita kaitkan dengan hermeneutika.
Karya
pertama yang berusaha secara praktis obyektif menata prinsip-prinsip penafsiran
semacam itu adalah introduction to the
correct interpretation of reasonable discourses and book (1742), karya
Johann Chladenius (1710-1759). Dengan menetapkan hermeneutika sebagai seni
pemorelahan pemahaman pembicaraan secara lengkap (entah ucapan entah tulisan),
ia mengsulkan tiga prinsip dasar yang harus selalu diikuti: (1) pembaca harus
menangkap gaya atau “genre”
pembicara/penulis; (2) aturan logika yang tak bisa berubah dari Aristotelian
harus digunakan untuk menagkap makna setiap kalimat; (3) “perspektif” atau
“sudut pandang” pembicara/penulis harus ditanamkan di dalam benak, terutama
ketika membandingkan laporan yang berbeda tentang peristiwa atau pandangan yang
sama.
2.
Hubungan Bahasa dan Pengetahuan Bahasa
Relasi
antara hubungan bahasa dan pengetahuan bahasa dapat dikatakan sebagai hubungan
kausalitas. Dan di dalam perkembangannya, bahasa sudah dijadikan obyek menarik
bagi perenungan, pembahasan dan penelitian dunia filsafat. Selai bahasa
mempunyai daya tarik tersendiri, ia juga memiliki kelemahan sehubungan dengan
fungsi dan perannya yang begitu luas dan kompleks, seperti ia tidak bisa
mengetahui dirinya secara tuntas dan sempurna, sehingga filsafatlah yag
memberikan pengetahuan pada dirinya.
3. Filsafat
dapat dikaji melalui tiga aspek yaitu, epistemologi, antologi dan aksiologi.
a. Epsitemologi
Epistimologi
(asal mula) adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Ia merupakan
cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya pengetahuan, sumber
pengetahuan, asal mula pengetahuan, sarana, metode atau cara memperoleh
pengetahuan, validitas dan kebenaran pengetahuan (ilmiah). Pengetahuan
merupakan daerah persinggungan antara benar dan dipercaya. Secara rasional,
ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif, sedangkan secara
empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak.
Secara umum bahasa dapat difenisikan
sebagai lambang. Pengertian lain dari bahasa adalah alat komunikasi yang berupa
sistem lambang yang dihasilkan oleh alat ucap pada manusia Seperangkat aturan
yang mendasari pemakaian bahasa, atau yang kita gunakan sebagai pedoman
berbahasa inilah yang disebut Tata bahasa.
Untuk selanjutnya yang berhubungan dengan tata bahasa akan dibahas lebih detail lagi yaitu tentang fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan etimologi. Pengertian dari Fonologi ialah bagian tata bahasa yang membahas atau mempelajari bunyi bahasa. Morfologi mempelajari proses pembentukan kata secara gramatikal beserta unsur-unsur dan bentuk-bentuk kata. Sintaksis membicarakan komponen-komponen kalimat dan proses pembentukannya. Bidang ilmu bahasa yang secara khusus menganalisis arti atau makna kata ialah semantik, sedang yang membahas asal-usul bentuk kata adalah etimologi.
Untuk selanjutnya yang berhubungan dengan tata bahasa akan dibahas lebih detail lagi yaitu tentang fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan etimologi. Pengertian dari Fonologi ialah bagian tata bahasa yang membahas atau mempelajari bunyi bahasa. Morfologi mempelajari proses pembentukan kata secara gramatikal beserta unsur-unsur dan bentuk-bentuk kata. Sintaksis membicarakan komponen-komponen kalimat dan proses pembentukannya. Bidang ilmu bahasa yang secara khusus menganalisis arti atau makna kata ialah semantik, sedang yang membahas asal-usul bentuk kata adalah etimologi.
b. Ontologikal
Ontologikal (Objek
atau sasaran) membahas keberadaan sesuatu yang bersifat kongkrit secara kritis.
Pemahaman ontologik meningkatkan pemahaman manusia tentang sifat dasar berbagai
benda yang akhimya akan menentukan pendapat bahkan ke¬yakinannya mengenai apa
dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang dicarinya. Rizal
Mustansyir menyebutkan bahwa objek material filsafat bahasa adalah kefilsafatan
atau bahasa yang dipergunakan dalam filsafat. Sedangkan objek formal filsafat
bahasa menurutnya, ialah pandangan filsafati atau tinjauan secara filsafati.
c. Semantikal
/ Aksiologi
Sematikal (nilai dan fungsi)
meliputi nilai nilai kegunaan yang bersifat normatif dalam pemberian makna
terhadap kebenaran atau ke¬nyataan yang dijumpai dalam seluruh aspek kehidupan.
Nilai-nilai kegunaan ilmu ini juga wajib dipatuhi seorang ilmuwan, baik dalam
melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu.
4. Ciri-ciri
bahasa universal
a. Bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang
terdiri dari vocal dan konsonan. Misalnya, bahasa Indonesia mempunyai 6 vokal
dan 22 konsonan, bahasa arab mempunyai tiga vocal pendek dan tiga vocal panjang
serta 28 konsonan (Al-Khuli 1982;321); bahasa Inggris memiliki 16 buah vocal
dan 24 konsonan (Al-Khuli 1982: 320).
b. Bahasa
mempunyai satuan-satuan bahasa yang bermakna, entah kata, frase, kalimat dan
wacana.
5. Para
ahli bahasa dan pandangannya terhadap bahasa
a. Ferdinand
De Saussure sangat menekankan bahwa tanda-tanda bahasa secara bersama membentuk
system; bahwa langue, dengan kata lain berwatak sistematik dan structural.
Dengan pandangan terhadap sistematika bahasa ini de Saussure telah menjalankan
pengaruh yang dahsyat. Noam Chomsky berpendapat suatu bahasa yang hidup
ditandai oleh kreativitas yang dituntut oleh aturan-aturan. Aturan-aturan tata
bahasa nyata bertalian dengan tingkah laku kejiwaan, manusia adalah
satu-satunya makhluk yang dapat belajar bahasa. Bahasa yang hidup adalah bahasa
yang dapat dipakai dalam berpikir.
b. Benyamin
Lee dan Sapir hipotesis yang diusungnya adalah struktur bahasa suatu budaya
menentukan apa yang orang pikirkan dan lakukan. Dapat dibayangkan bagaimana
seseorang menyesuaikan dirinya dengan realitas tanpa menggunakan bahasa, dan
bahwa bahasa hanya semata-mata digunakan untuk mengatasi persoalan komunikasi
atau refleksi tertentu. Hipotesis ini menunjukkan bahwa proses berpikir kita
dan cara kita memandang dunia dibentuk oleh struktur gramatika dari bahasa yang
kita gunakan.
Sumber
Ahmad
Asep.2006. Filsafat Bahasa. Bandun : PT. Remaja Rosdakarya.
Kejhung,
Badri. ___. Pengantar Filsafat Bahasa. Diperoleh
dari
https://badriyadi.wordpress.com/filsafat/pengantar-filsafat-bahasa/
Comments
Post a Comment