Ilmu filsafat tidak akan pernah lepas dari
metafisika. Menurut Bakar (1997: 120), ilmu filosofis tertinggi
adalah metafisika karena materi subyeknya berupa wujud non fisik mutlak yang
menduduki peringkat tertinggi dalam hierarki wujud. Secara religius, wujud non fisik mengacu kepada Tuhan dan malaikat dan secara filosofis, objek ini merujuk pada sebab pertama, sebab kedua, dan intelek aktif. Filsafat Metafisika tentang agama, yaitu pemikiran filsafati (kritis, analitis, rasional) tentang
gejala agama
yaitu hakekat agama sebagai objek dari pengalaman religius
manusia, hakikat hubungan manusia dengan Yang Suci. Dalam kajian metafisika
agama dan khususnya Islam salah satu tujuannya adalah untuk menegakkan fondasi
teologis dan tauhid secara benar karena tauhid merupakan
dasar dari ajaran Islam.
Kekokohan konsepsi
metafisika agama Islam dimaksudkan untuk menjawab tantangan pendapat para
pendukung materialisme khususnya
positifisme yang mengingkari eksistensi immateri dan supra-natural,
yang kedua hal tersebut adalah hekekat substansi nilai keagamaan. Disinilah
setiap pemikir agama harus melakukan atau minimal menjawab dua hal
pokok yang menjadi tantangan kaum meterialistik yang tidak
meyakini hal-hal yang suprainderawi yaitu:
1. Pemikir agama harus mampu membuktikan keterbatasan indera manusia dalam
melakukan eksperimen dan menyingkap segala eksistensi materi alam semesta.
2. Membuktikan keberadaan hal-hal yang bersifat non-inderawi, namun memiliki
eksistensi riil dalam kehidupan di alam semesta yang luas ini.
Metafisika berbeda dengan
kajian-kajian tentang objek partikular yang ada pada alam semesta. Biologi mempelajari objek dari organisme bernyawa, geologi mempelajari objek
bumi, astronomi mempelajari objek bintang-bintang, fisika mempelajari objek
perubahan pergerakan dan perkembangan alam. Tetapi metafisika agama mempelajari
sifat-sifat yang dimiliki bersama oleh semua objek ini yang dipandu oleh
dimensi keilahian untuk menemukan kebenaran hakiki atas religiusitasnya. (Tule, 1995:
202-203)
Pertanyaan yang muncul
adalah bagaimana dengan konsepsi falsafah Metafisika dalam perkembangan
pemikiran Islam. Disinilah perlu
dilakukan sebuah pemetaan berkaitan dengan konsepsi falsafat metafisika dalam wacana pemikiran Islam. Maka dapat
dipetakan kedalam sejumlah aspek penting yang mesti dideskripsikan oleh
falsafah metafisika sehingga Islam menjadi agama yang
memiliki bentuknya yang komprehensif. Misalnya
pertanyaan-pertanyan yang menyangkut hal-hal
sebagai berikut bagaimana pemikir Islam merumuskan hakekat
metafisis akal dan jiwa (hakekat metafisis manusia), bagaimana pemikir muslim merumuskan hakekat metafisis objek (metafisika ketuhanan),
dan bagaimana pemikir-pemikir muslim mengkonsepsikan hekakat metafisis falsafat
wahyu dan nabi dan lain sebagainya.
Pada
hakekatnya segala hal yang berkaitan dengan konsepsi Islam berpedoman kepada
hal-hal yang bersifat Ghoib. Maka untuk memberi rumusan hal-hal yang bersifat ghoib ini para pemikir
muslim berjuang sekuat tenaga melalui akal pikirnya untuk berijtihad
menjawabnya sehingga melahirkan sejumlah konsep yang dapat dijadikan sumber
rujukan.
Ilmu metafisika adalah
ilmu yg melebihi ilmu fisika. Berbeda dari pengertian ilmu metafisika dalam
khasanah western science, falsafah metafisika Islam adalah ilmu fisika yg dilanjutkan atau
ditingkatkan sehingga masuk ke dalam ilmu bi
al-ghoibi (ghaib atau rohani). Berkaitan dengan konsepsi keagamaan maka
dengan ilmu metafisika akan terungkap apa itu agama secara lebih komprehensif. Kebenaran-kebenaran dan
rahasia-rahasia agama yg selama ini dianggap misterius, mistik, ghaib, dan
sebagainya akan menjadi sebuah konseptualisasi yang cukup nyata, relatif riel,
dan dapat dijelaskan secara falsafi. Hal ini mirip dengan peristiwa-peristiwa
kimiawi yg dulunya dianggap misterius, nujum, sulap, untuk menakut-nakuti,
dsbnya, dengan ilmu kimia menjadi nyata, dan seolah-olah riel, dan dapat
dijelaskan secara filosofis. Misalnya unsur air (H2O) Asam Klorida (HCl) Besi (Fe) dan lain sebagainya.
Dengan ilmu metafisika
jelas bahwa agama tak lain terdiri dari hukum-hukum yang secara konseptual riil seperti juga alam jagad raya yag tak lain terdiri dari hukum-hukum
fisika, kimia, dan biologi. Hanya saja martabat dan dimensi hukum-hukum agama
tersebut lebih tinggi dan bersifat hakiki, absolut serta jika dilihat secara
filosofis nampaklah sangat sempurna alam ini. Tujuan pembahasan metafisika adalah untuk membangun suatu
sistem alam semesta yang dapat memadukan ajaran agama dengan tuntutan akal.
Dengan penjelasan yg masuk
akal yang falsafi filosofis maka ajaran-ajaran agama dapat diterangkan
secara logis sehingga keimanan semakin meningkat. Tanpa penjelasan
yang falsafi metafisis logis maka ajaran
agama menjadi dogma. Tanpa penjelasan yang logis falsafai metafisis,
maka ajaran agama juga sekedar pil yang harus di telan sehingga tidak akan dapat dihayati maksud
dan tujuannya oleh umat beragama. Dengan metafisika ilmiah ini kita bisa melihat
bahwa tanpa adanya agama maka manusia tidak mungkin percaya
adanya Tuhan.
Sumber
Bakar, Osman. (1997). Hierarki Ilmu Membangun
Rangka Pikir Islamisasi Ilmu.
Bandung:
Mizan.
Comments
Post a Comment