Para filosof sebeluKant mencoba menjelaskan segala prinsip mendasar dibalik sebuah realitas. Mereka ingin memetahkan realitas orisinil, mutlak dan paling fundamental dibalik semua penampakkan. Segala realitas mendasar dan fundamental dari segala yang ada mulai disibakkan oleh akal budi manusia. Adalah merupakan usaha para filosof ini yang menampik semua deskripsi mitos tentang realitas. Pada titik paling radikal, para filosof ini menjelaskan prinsip pertama yang mengawali dan mendasari segala realitas. Kita bias mengambil contoh misalnya yang secara historis dimulai dari Melitos, Asia Kecil pada abad ke-6 SM, Thales mendeskripsikan air sebagai prinsip pertama Anaximandros mengedepankan to aperion (yang tidak terbatas) dan Anaximenes memproklamirkan udara sebagai prinsip utama.
Kemudian Parminides, yang ada adalah ada,
di luar ada tidak ada, plato, yang ada itu universal, formal, ideal, dan yang
paling penting adalah Aristoteles yang merefleksikan realitas ada secara
mendasar dan menyeluruh. Lalau Leibniz menggagas tentng monade sebagi prinsip
pertama. Para filosof yang disebutkan di atas memprioritaskan cara kerja nalar
atau akal budi; manusia yang berpikir untuk menjawab dan menguak segala hal
mendasar, esensial dari segala penampakan realitas. Para pemikir metafisis
seperti Plato dan Aristoteles menelurkan asumsi dasar bahwa dunia atau realitas
adalah yang dapat dipahami (intelligible) yang mana setiap aliran metafisika
mengklaim bahwa akal budi memiliki kapasitas memadai untuk memahami dunia. Seolah-olah
akal budi memiliki kualitas “ampuh” untuk menyibak semua realitas mendasar dari
segala yang ada.
Immanuel Kant berpikir lain. Pada Kant
metafisika dipahami sebagai suatu ilmu tentang batas-batas rasionalitas
manusia. Metafisika tidak lagi hendak menyibak dan mengupas prinsip mendasar
segala yang ada tetapi metafisika hendak pertama-tama menyelidiki manusia
(human faculties) sebagai subjek pengetahuan. Disiplin metafisika selama ini
yang mengandaikan adanya korespondensi pikiran dan realitas hingga menafikkan
keterbatasan realitas manusia pada akhirnya direvolusi total oleh Kant. Dalam
diri manusia, menurut Kant, ada fakultas yang berperan dalam menghasilkan
pengetahuan yaitu sensibilitas yang berperan dalam menerima berbagai kesan
inderawai yang tertata dalam ruang dan waktu dan understanding yang memiliki
kategori-kategori yang mengatur dan menyatukan kesan-kesan inderawi menjadi
pengetahuan.
Revolusi
Kopernikan
Filsafat sebelum Kant memiliki proses
berpikir yang mana subjek harus mengarahkan diri pada objek (dunia,
benda-benda). Kehadiran Kant membawa sebuah evolusi besar dalam cara berpikir
metafisis, karena menurutnya, bukan subjek yang mengarahkan diri pada objek,
tetapi sebaliknya. Yang mendasar dari pemikiran Kant ini adalah ia tidak
memulai dari objek-objek tetapi dari subjek. Objek-obejk itu yang harus
“menyesuaikan” diri dengan subjek. Dengan demikian menurut filsafat Kant,
realitas itu ada dalam akal budi manusia. Inilah yang disebut sebagai revolusi
Kopernikan, artinya sebuah perubahan cara berpikir semendasar Kopernikus yang
mengubah pandangan dari geosentris menuju heliosentris.
Selanjutnya filsafat Kant ini disebut
sebagai filsafat transendental (Transcendental
Philosophy). Filsafat transendental adalah filsafat yang berurusan bukan
untuk mengetahui objek pengalaman melainkan bagaimana subjek (manusia) bisa
mengalami dan mengetahui sesuatu. Filsafat transendental itu tidak memusatkan
diri dengan urusan mengetahui dan mengumpulkan realitas kongkrit seperti
misalnya pengetahuan tentang anatomi tubuh binatang, geografis, dll, melainkan
berurusan dengan mengetahui hukum-hukum yang mengatur pengalaman dan pemikiran
manusia tentang anatomi tubuh binatang, dll. Hukum-hukum itu oleh Kant disebut
hukum apriori (hukum yang dikonstruksi akal budi manusia) dan bukan hukum yang
berdasarkan pengetahuan inderawi (aposteriori).
Dengan demikian metafisika gnoseologi Kant
ini merupakan sebuah upaya untuk mereduksi realitas kongkrit (inderawi) pada
realitas di dalam akal budi. Bahwa akal budi manusia mempunyai
struktur-struktur pengetahuan mengenai segala apa yang ada. Dalam pandangan
Kant, objek itu nampak hanya dalam kategori subjek, jadi tidak ada cara lain
kecuali mengetahuinya dengan struktur kategori akal budi manusia. Sebenarnya
pemikiran Kant ini berangkat dari pemahamanya tentang hakikat realitas atau
neumena itu tidak pernah diketahui , yang kita ketahui itu gejalahnya. Sejauh
objek itu saya lihat lantas segala yang dilihat itu masuk dalam akal budi
menjadi pengetahuan.
Kant menolak klaim metafisika atas
pengetahuan tentang realitas fundamental (das
ding an sich). Oleh karena ketika kita berhadapan dengan realitas kita
selalau mengalami realitas itu dalam kategori-kategori yang sudah tertanam
dalam benak kita. Jadi pengetahuan dan pengenalan tentang segala yang ada itu
ditentukan oleh hukum-hukum atau prinsip-prinsip pengetahuan yang secara
konstitutif ada dalam akal budi mansusia.
Kant hendak menyelidiki struktur
pengetahuan subjek sendiri yang membentuk pengetahuan tentang segala yang ada.
Dengan cara ini Kant sekaligus suddah menunjukkan apa sesungguhnya yang menjadi
sumber dan struktur pengetahuan manusia. Pengetahuan itu bersandar pada
pengalaman inderawi dan bergerak dalam wilayah kenyataan yang bisa dialami
manusia. Dan pengetahuan itu invalid bila bergerak di laur kenyataan yang bis
adialami manusia. Itulah sebabnya maka Kant menolak metafisika-metafisika
sebelumnya yang mengganggap realitas das
ding an sich bisa dicerna oleh rasionalitas manusia.
Sumber
Wijaya, Nanang. 2016. Filsafat Metafisika Imanuel Kant. Diperoleh dari
Comments
Post a Comment