Hubungan Bahasa Dengan Filsafat
Bahasa tidak saja sebagai alat komunikasi untuk mengantarkan
proses hubungan antarmanusia, tetapi, bahasa pun mampu mengubah seluruh
kehidupan manusia. Artinya, bahwa bahasa merupakan aspek terpenting dari
kehidupan manusia. Kearifan Melayu mengatakan: “Bahasa adalah cermin budaya
bangsa, hilang budaya maka hilang bangsa”. Jadi bahasa adalah sine qua non,
suatu yang mesti ada bagi kebudayaan dan masyarakat manusia. Bagaimanapun alat
paling utama dari filsafat adalah bahasa. Tanpa bahasa, seorang filosof (ahli
filsafat) tidak mungkin bisa mengungkapkan perenungan kefilsafatannya kepada
orang lain. Tanpa bantuan bahasa, seseorang tidak akan mengerti tentang buah
pikiran kefilsafatan.
Louis O. Katsooff
berpendapat bahwa suatu system filsafat sebenarnya dalam arti tertentu
dapat dipandang sebagai suatu bahasa, dan perenungan kefilsafatan dapat
dipandang sebagai suatu upaya penyusunan bahasa tersebut. Karena itu filsafat
dan bahasa senantiasa akan beriringan, tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Hal ini karena bahasa pada hakikatnya merupakan sistem symbol-simbol. Sedangkan
tugas filsafat yang utama adalah mencari jawab dan makna dari seluruh symbol
yang menampakkan diri di alam semesta ini. Bahasa juga adalah alat untuk membongkar
seluruh rahasia symbol-simbol tersebut.
Dari uraian di atas, maka jelaslah bahwa bahasa dan filsafat
memiliki hubungan atau relasi yang sangat erat, dan sekaligus merupakan hukum
kausalitas (sebab musabbab dan akibat) yang tidak dapat ditolak kehadirannya.
Sebab itulah seorang filosof (ahli filsafat), baik secara langsung maupun
tidak, akan senantiasa menjadikan bahasa sebagai sahabat akrabnya yang tidak
akan terpisahkan oleh siapa pun dan dalam kondisi bagaimanapun. Bahasa memiliki
daya tarik tersendiri untuk dijadikan objek penelitian filsafat, ia juga
memiliki kelemahan-kelemahan tertentu sehubungan dengan fungsi dan perannya
yang begitu luas dan kompleks. Salah satu kelemahannya yaitu tidak mengetahui
dirinya secara tuntas dan sempurna, sebagaimana mata tidak dapat melihat
dirinya sendiri.
Realitas semacam itulah, barangkali yang mendorong para
filosof dari tradisi realisme di Inggris mengalihkan orientasi kajian
kefilsafatannya pada analisis bahasa seperti yang telah dilakukan oleh George
More (1873-1958), Bertrand Russel (1872-1970), Ludwig Wittgenstein (1889-1951),
Alfref Ayer (1910- ), dan yang lainnya. Dalam perkembangan selanjutnya,
kelompok ini sering dikelompokkan sebagai aliran baru dalam filsafat, yaitu
aliran filsafat analisis bahasa atau filsafat analitis.
Sumber
Ahmad Asep.2006. Filsafat Bahasa. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Comments
Post a Comment