Keraton Surosowan
Keraton
Surosowan Banten Lama, Serang, merupakan sebuah situs bersejarah yang tinggal
berupa reruntuhan benteng dan keraton peninggalan Kesultanan Banten. Lokasi
reruntuhan keraton ini berada berseberangan dengan gedung Museum Situs Kepurbakalaan Banten,
dan hanya beberapa puluh langkah dari halaman
Masjid Agung Banten. Untuk berkunjung ke reruntuhan Keraton
Surosowan, terlebih dahulu harus datang ke musuem, karena di sanalah kunci
pembuka gembok pagar pintu masuk ke reruntuhan keraton berada.
Keraton
Surosowan dahulu dikelilingi oleh kolam perlindungan yang sekarang telah rata
dengan tanah. Istana tersebut diserbu dan dihancurkan oleh Daendels pada tahun
1808 setelah utusannya dipenggal kepalanya oleh Sultan yang menolak mengirimkan
orang untuk membantu membangun proyek Jalan Raya Anyer – Panarukan karena telah
memakan banyak korban rakyat.
Reruntuhan Bale Kambang
yang lokasinya berada di tengah Kolam Rara Denok Keraton Surosowan. Kolam itu
berukuran 30 x 13 meter dengan kedalaman 4,5 meter. Saya membayangkan bahwa
kolam dan balekambang itu mungkin dahulu seindah kolam dan bangunan yang ada di
Taman Soekasada Ujung di Karangasem
Keraton
Surosowan dibangun sekitar tahun 1522-1526 oleh Sultan Maulana Hasanuddin,
pendiri Kesultanan Banten yang juga merupakan anak sulung Sunan Gunung Jati
Cirebon. Benteng dan Keraton Surosowan dibangun setelah penaklukan kawasan
pelabuhan yang sebelumnya merupakan wilayah Kerajaan Pajajaran, dan
menjadikannya sebagai kawasan perdagangan. Sultan Banten berikutnya memperluas
dan menambah bangunan keraton serta memperkuat benteng. Pada jaman Sultan Haji
yang merebut kekuasaan dengan bantuan VOC dari Sultan Ageng Tirtayasa,
perbaikan keraton kabarnya juga melibatkan Hendrik Lucasz Cardeel, arsitek
keturunan Belanda yang memeluk Islam dan diberi gelar kehormatan Pangeran
Wiraguna atas jasa-jasanya
Di ujung kanan area reruntuhan Keraton Surosowan ini terdapat sejumlah undakan untuk menuju ke atas benteng, sementara di kiri dan kanan terlihat lubang masuk ke bagian bawah benteng yang berbentuk lengkung. Saya kemudian memanjat menaiki undakan untuk melihat benteng dari atas, yang sayangnya sudah ditumbuhi rumput yang sangat tebal. Benteng Surosowan itu dulunya berdiri kokoh setinggi 2 meter dengan tebal 5 meter. Ketebalan benteng itu masih terlihat jelas ketika saya berdiri di atasnya. Dari tiga gerbang masuk ke Keraton Surosowan yang ada di sisi utara, timur, dan selatan, hanya gerbang di sisi selatan yang tak lagi bisa dimasuki karena telah ditutup dengan tembok.
Di ujung kanan area reruntuhan Keraton Surosowan ini terdapat sejumlah undakan untuk menuju ke atas benteng, sementara di kiri dan kanan terlihat lubang masuk ke bagian bawah benteng yang berbentuk lengkung. Saya kemudian memanjat menaiki undakan untuk melihat benteng dari atas, yang sayangnya sudah ditumbuhi rumput yang sangat tebal. Benteng Surosowan itu dulunya berdiri kokoh setinggi 2 meter dengan tebal 5 meter. Ketebalan benteng itu masih terlihat jelas ketika saya berdiri di atasnya. Dari tiga gerbang masuk ke Keraton Surosowan yang ada di sisi utara, timur, dan selatan, hanya gerbang di sisi selatan yang tak lagi bisa dimasuki karena telah ditutup dengan tembok.
Masa
kejayaan Kesultanan Banten terjadi pada masa Sultan Ageng Tirtayasa, yaitu 1651
– 1682. Saat itu Banten memiliki armada kuat yang dibangun mengikuti model
Eropa, dengan mengupah orang Eropa. Adalah karena perselisihan antara Sultan
Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji, puteranya yang didukung VOC, menjadi awal
runtuhnya Kesultanan Banten. Setelah Keraton Surosowan dihancurkan, pada 22
November 1808 Daendels mengumumkan dari markasnya di Serang bahwa wilayah
Kesultanan Banten diserap ke wilayah Hindia Belanda. Namun Kesultanan Banten
baru dihapuskan tahun 1813, ketika Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin
Zainussalihin dilucuti dan dipaksa turun tahta oleh Thomas Stamford Raffles.
Semestinya
Istana Surosowan ini dapat dibangun kembali sebagai jejak sejarah kejayaan
Kesultanan Banten. Ini mungkin saja dapat terwujud ketika para pejabat
benar-benar bersih dan semata-mata bekerja untuk kemakmuran rakyat, bukan
memperkaya diri.
Sumber
Comments
Post a Comment