Skip to main content

Berfikir Induktif dan Deduktif

Berfikir Induktif dan Deduktif
Ilmu adalah akumulasi pengetahuan yang tersusun secara sistematis. Pengetahuan yang dimaksud adalah suatu fenomena yang ditangkap oleh indera manusia. Menangkap berarti mengamati atau mengobsevasi, sedangkan yang diamati dari fenomena itu tidak lain adalah fakta. Dalam observasi itu fakta dari fenomena dikumpulkan, diamati, diklasifikasi dan diklarifikasi, disusun secara teratur (sistematis) kemudian dibuat generalisasi sebagai kesimpulannya. Dari sinilah terwujud hukum, dalil, atau teori dari suatu ilmu. Pekerjaan semacam ini tidak lain adalah pekerjaan induktif (menginduksi). Dapatlah dikatakan bahwa pekerjaan induktif ini dimulai dari hal-hal yang khusus (particular) yang terpikirkan sebagai kelas dari suatu fenomena, menuju generalisasi.
Menurut Francis Bacon (Soetriono dan SRD Rita Hanafie: 2007), mempertegas variasi kondisi untuk mencapai hakikat induktif, yaitu:
1.      Tabulasi atau pencatatan ciri-ciri positif yaitu pencatatan mengenai apa yang terjadi dalam suatu kondisi.
2.      Tabulasi atau pencatatan ciri-ciri negatif yaitu pencatatan kondisi dimana suatu kejadian tidak timbul.
3.      Tabulasi atau pencatatan variasi kondisi yaitu pencatatan ada tidaknya perubahan ciri-ciri pada kondisi yang berubah-ubah.
Dari ketiga tabulasi atau pencatatan tersebut barulah dapat ditetapkan ciri-ciri sifat atau unsur-unsur mana yang harus ada, yang tidak dapat dipisahkan dari fenomena itu.
Selanjutnya kebalikan dari berpikir induktif ialah berpikir deduktif. Bekerjanya berangkat dari hal yang umum (dari induksi/teori/dalil/hukum) kepada hal-hal yang khusus (particular). Prinsip dasarnya ialah "segala yang di pandang benar pada semua peristiwa dalam satu kelas atau jenis, berlaku pula sebagai hal yang benar pada semua peristiwa yang terjadi pada hal yang khusus, asal hal yang khusus inj benar-benar merupakan bagian atau unsur dari hal yang umum itu".
Penalaran deduktif biasanya mempergunakan silogisme dalam menyimpulkan. Proposisi yang pertama disebut premis mayor, yang kedua disebut premis minor, dan yang ketiga disebut konklusi/konsekuen/kesimpulan. Sesuai dengan sebutannya, premis mayor adalah proporsi yang bersifat umum (general), berupa hukum, teori ataupun dalil dari suatu ilmu, sedangkan premis minor adalah proposisi yang disusun dari fenomena khusus yang ditangkap oleh indra, yaitu yang ingin diketahui, dan konklusi (K) atau konsekuen atau kesimpulan adalah jawaban logis bagi premis minor itu.

Sumber
Komara, Endang. 2014. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. Bandung: PT Refika
            Aditama

Comments

Popular posts from this blog

Hubungan Epistemologi, Metodologi, Dan Metode Ilmiah

Hubungan Epistemologi, Metodologi, Dan Metode Ilmiah Metode ilmiah berperan dalam tataran transformasi dari wujud pengetahuan menuju ilmu pengetahuan. Bisa tidaknya pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan yang bergantung pada metode ilmiah, karena metode ilmiah menjadi standar untuk menilai dan mengukur kelayakan suatu ilmu pengetahuan. Sesuatu fenomena pengetahuan logis, tetapi tidak empiris, juga tidak termasuk dalam ilmu pengetahuan, melainkan termasuk wilayah filsafat. Dengan demikian metode ilmiah selalu disokong oleh dua pilar pengetahuan, yaitu rasio dan fakta secara integratif. Metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis (Senn, 2002). Sedangkan metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan dalam metode tersebut. Secara sederhana dapat dikatakan, bahwa metodologi adalah ilmu tentang metode atau ilmu yang mempelajari prosedur atau cara-cara mengetahui sesuatu. Jika metode merupakan prosedur ...

Implementasi Dalam Penelitian

Implementasi Dalam Penelitian Pelaksanaan penelitian, baik kuantitatif maupun kualitatif, sebenarnya merupakan langkah-langkah sistematis yang menjamin diperoleh pengetahuan yang mempunyai karakteristik rasional dan empiris. Secara filosofis kedua pendekatan tersebut mempunyai landasan yang berbeda. Penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang didasarkan pada filsafat positivistik. Filsafat positivistik berpandangan bahwa gejala alam dapat diklasifikasikan, relatif tetap, konkrit, teramati, terukur, dan hubungan gejala bersifat sebab akibat. Proses penelitian dimulai dari proses yang bersifat deduktif, artinya ketika menghadapi masalah langkah pertama yang dilakukan adalah mencari jawaban secara rasional teoretis melalui kajian pustaka untuk penyusunan kerangka berpikir. Bagi penelitian yang memerlukan hipotesis, kerangka berpikir digunakan sebagai dasar untuk menyusun hipotesis. Langkah berikutnya adalah mengumpulkan dan menganalisis data. Tujuan utama langkah ini adalah un...

Apakah Perbedaan Antara Logika Dan Instink

Apakah Perbedaan Antara Logika Dan Instink Naluri sudah mendarah daging dalam diri kita, itu adalah rasa bawaan dibangun ke kode genetik kita melewati sepanjang ribuan tahun evolusi dan seterusnya untuk tujuan bertahan hidup. Kita secara naluriah mencari kesenangan, menghindari rasa sakit, dan menghemat energi. Segala sesuatu yang lain di dalam manusia adalah unik. Alasan adalah proses berpikir logis dan rasional membangun dunia kita. Kita dapat membedakan antara akal dan naluri karena dalam banyak hal mereka tidak sepenuhnya sama. Tentu saja ada alasan mengapa filsuf dan ilmuwan telah begitu terpesona sepenuhnya dengan alasan, dan itu berjalan lebih jauh daripada kesadaran. Persepsi ini ditelusuri kembali ke Yunani Kuno, untuk Socrates, Plato, dan Aristoteles, untuk beberapa nama (meskipun ada banyak lagi).   Mereka percaya insting harus dijinakkan oleh akal.   Alasan adalah mekanisme untuk memastikan bahwa naluri kita tidak bertindak tidak rasional, karena jika na...