Isi Pendidikan Paulo Freire
Pada dasarnya isi pendidikn tentu
berkaitan dengan kurikulum, yaitu seperangkat rencana dan pengaturan mengenai
tujuan, isis, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pendoman
penyelengaraan pembelajran untuk mencapai tujuan program pendidikan tertentu.
Dalam standar ini yang dimaksud dengan tujuan adalah kompetensi atau learning outcomes, isi dan bahan
pelajran adalah bahan kajian, cara adalah metode pembelajaran dan cara
penilaian, dan kegiatan pembelajran adalah implementasi dari semua komponen di
atas (Permen No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi).
Sedangkan dalam kajian Freire isi
pendidikan lebih terkai denganlearning
outcomes, yaitu humanisasi seperti yang telah dikemukakan pada tujuan
pendidikan. Isi pendidikan sebagaimana dianjurkan dan di praktikkan
Freire,terdiri atas iptek dan nilai-nilai. Iptek sebagai produk dan sebagai
proses, dan nilai-nilai sebagaimana terkandung dalam konteks realitas sosial
tempat berlangsungnya kehidupan. Pendidikan bagi Freire adalah sarana agar
menusia melakukan intervensi kritis terhadap realitas. Nilai-nilai yang paling
sentral bagi Freire sebagai isi pendidikan adalah nilai-nilai humansasi.
Isi pendidikan hendaknya tidak
diperlakukan sebagai ateri indoktinasi, slogan, komunike, bermakna tunggal
sesuai kehendak “penerbit”- nya. Isi pendidikan hendaknya problematis. Ini
dicontohkan ketika Freire merancang pendidikan budaya (culture investigation) bagi para petani dan pekerja urban di Brazil
dan Chile, Freire mendesain suatu konsep pendidikan litearsi fungsional
menggunakan pebendaharaan kata-kata yang digali dari berbagai “tema pokok”
pembicaraan sehari-hari masyarakat petani itu sendiri. Dalam pelaksanaanya,
konsep pendidikan literasi fungsional Freire terdiri dalam tiga tahapan utama
yaitu:
1.
Tahap Kodifikasi dan Dekodifikasi
Merupakan tahap pendidikan
literasi dalam konteks konkret dan konkret teoritis (melalui gambar-gambar,
cerita rakyat dan sebgainya). Tahap kodifikasi (menandai) adalah proses dimana
pendidikan memberikan tanda berupa ilustrasi (gambar-gambar, cerita rakyat dan
sebgainya). Dari tema-tema problematis yang hendak dibangun berdasarkan
realitas yang dialami peserta didi. Kodifikasi merupakan sebuah objek
pengetahuan yang menjembatani antara pendidikan dan menyikap tabir kehidupan.
Sedangkan dekodifikasi
(mengurai) kodifikasi tersebut bersama dengan guru dan siswa menganalisis
kehidupan mereka sendiri, dalam diskusi yang panjang mereka mengeluarkan
segenap ketajaman penglihatannya terhadap diri mereka sendiri yang terlibat
bersama dunia (realitas objektif). Guru dan siswwa memposisikan diri mereka
sebagai subjek yang menolak budaya bisu.
2.
Tahap Diskusi Kultural
Merupakan tahap lanjutan
dalam satuan kelompok-kelompok kerja kecil yang sifatnya problematis dengan menggunakan
kata-kata kunci (generative words).
Sebagai contohnya kata perjuangan (struggle)
menjadi kata kunci yang hidup dalam diskusi kultural.
3.
Tahap Asksi Kultural
Merupakan tahap “praxis”
yang sesungguhnya dimana tndakan orang atau kelompok menjadi bagian langsung
dan realitas. Setelah melalui tahap diskusi kultural yang problematis, langkah
selanjutnya adalah mewujudkan tindakan-tindakan yang telah direfleksikan
sebelumnya pada tahap kodifikasi, dekodifikasi, dan diskusi kultural.
Berdasarkan konsep pendidikan
literasi yang telah dirancang Freire, dapat ditarik kesimpulan bahwa isi
pendidikan bukanlah pendepositoan teks-teks asing yang diluar kesadaran peserta
didik. Isi pendidikan merupakan teks yang menggugat kehidupan peserta didik.
Teks harus mampu mendramatisasi kehidupan peserta didik agar terbebas dari
belenggu penindasan, membangun kesadrannya sebagia subjek yang otono, serta
memutuskan diri utuk terlibat aktif dalam setiap laku eksistensinya di dunia
dan bersama dunia.
Sumber
Kesuma, Dharma & Teguh Ibrahim. 2016. Struktur Fundamental Pendagogik:
Membedah Pemikiran Paulo Freire. Bandung:
PT Refika Aditama.
Comments
Post a Comment