Skip to main content

Etika dan Moral


Hubungan Etika dan moral
Seperti banyak disinggung sebelumnya, ada penyepadanan antara etika dengan moral, norma-norma dan juga etika. Penyepadanan ini seringkali ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Pada kenyataannya pada masing-masing istilah khususnya moral dan etika terdapat perbedaan yang justru cukup signifikan. Dalam buku Etika Islam Telaah Pemikiran Filsafat Moral Raghib Al-Isfahani, K. Bertens seperti dikutip oleh Amril M. menuliskan bahwa moral itu adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.
Seperti K. Bertans, Loren Bagus juga menuliskan bahwa moral diantaranya menyangkut persoalan kegiatan-kegiatan manusia yang dipandang sebagai baik-dan buruk, benar salah, tepat tidak tepat, atau menyangkut cara seseorang bertingkah laku dalam hubungan dengan orang lain. Moral lebih cenderung parsial dan biasanya dianut dan diikuti oleh setiap komunitas masyarakat yang juga parsial  Lebih luas lagi dijelaskan bahwa moral selalu mengacu pada benar salahnya manusia dalam melakukan tindakan perilakunya sebagai manusia. Moral adalah bidang kehidupan diliihat dari segi kebaikan dan keburukannya sebagai manusia.
Sedangkan etika memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan dengan moral. Etika atau filsafat moral selain seorang dituntut dapat berprilaku sesuai dengan norma-norma atau nilai-nilai tertentu, melainkan juga dituntut mampu mengetahui dan memahami sistem, alas an-alasan dan dasar-dasar moral serta konsep-konsep secara rasional guna mencapai kehidupan yang lebih baik
Etika bedanya dari moral adalah merupakan konsepsi metaetika (pemikiran kritis yang mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan mengenai moral), ia adalah ilmu bukan suatu ajaran, etika tidak mengajarkan bagaimana bagaimana manusia hidup melainkan memberikan pengertian-pengertian mengapa manusia harus mengakui suatu moral tertentu. Oleh karena itu disini letak fungsinya etika yaitu untuk mensistematisasi moralitas atau dapat juga disebut metode untuk memahami ajaran moral. Oleh karena itu yang dihasilkan etika bukan kebaikan secara langsung melainkan suatu pengertian yang mendasar dan kritis.




Sumber
Amril, M. 2002. Etika Islam Telaah Pemikiran Filsafat Moral Raghib Al-Isfahani
Jogjakarta:Pustaka Pelajar


Comments

Popular posts from this blog

Hubungan Epistemologi, Metodologi, Dan Metode Ilmiah

Hubungan Epistemologi, Metodologi, Dan Metode Ilmiah Metode ilmiah berperan dalam tataran transformasi dari wujud pengetahuan menuju ilmu pengetahuan. Bisa tidaknya pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan yang bergantung pada metode ilmiah, karena metode ilmiah menjadi standar untuk menilai dan mengukur kelayakan suatu ilmu pengetahuan. Sesuatu fenomena pengetahuan logis, tetapi tidak empiris, juga tidak termasuk dalam ilmu pengetahuan, melainkan termasuk wilayah filsafat. Dengan demikian metode ilmiah selalu disokong oleh dua pilar pengetahuan, yaitu rasio dan fakta secara integratif. Metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis (Senn, 2002). Sedangkan metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan dalam metode tersebut. Secara sederhana dapat dikatakan, bahwa metodologi adalah ilmu tentang metode atau ilmu yang mempelajari prosedur atau cara-cara mengetahui sesuatu. Jika metode merupakan prosedur ...

Apakah Perbedaan Antara Logika Dan Instink

Apakah Perbedaan Antara Logika Dan Instink Naluri sudah mendarah daging dalam diri kita, itu adalah rasa bawaan dibangun ke kode genetik kita melewati sepanjang ribuan tahun evolusi dan seterusnya untuk tujuan bertahan hidup. Kita secara naluriah mencari kesenangan, menghindari rasa sakit, dan menghemat energi. Segala sesuatu yang lain di dalam manusia adalah unik. Alasan adalah proses berpikir logis dan rasional membangun dunia kita. Kita dapat membedakan antara akal dan naluri karena dalam banyak hal mereka tidak sepenuhnya sama. Tentu saja ada alasan mengapa filsuf dan ilmuwan telah begitu terpesona sepenuhnya dengan alasan, dan itu berjalan lebih jauh daripada kesadaran. Persepsi ini ditelusuri kembali ke Yunani Kuno, untuk Socrates, Plato, dan Aristoteles, untuk beberapa nama (meskipun ada banyak lagi).   Mereka percaya insting harus dijinakkan oleh akal.   Alasan adalah mekanisme untuk memastikan bahwa naluri kita tidak bertindak tidak rasional, karena jika na...

Penjelajahan Ilmu dan Batas-Batasnya

Penjelajahan Ilmu dan Batas-Batasnya Surajiyo mengatakan, batas penjelajahan ilmu yaitu ketika manusia berhenti berpikir untuk mencari pengetahuan, sehingga jika manusia memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti dibatas pengalaman manusia. Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang digunakan dalam menyusun yang telah teruji secara empiris. Ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti pada batas pengalaman manusia. Ilmu hanya merupakan salah satu pengetahuan dari sekian banyak pengetahuan yang mencoba menelaah kehidupan dalam batas ontologis tertentu. Penetapan lingkup batas penelaah keilmuan yang bersifat empiris ini, konsisten dengan asas epistimologi keilmuan mensyaratkan adanya verifikasi secara empiris dalam proses penemuan dan penyusunan pernyataan yang bersifat benar secara ilmiah. Jadi, ilmu tidak mempelajari masalah surga dan neraka dan juga tidak mempelajari sebab musabab k...